Spanduk Sapi, Anis Matta: Kami Bukan Makhluk Suci  

Minggu, 03 Februari 2013 | 17:04 WIB

Spanduk Sapi, Anis Matta: Kami Bukan Makhluk Suci  
Anis Matta. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Padalarang -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta mengaku sudah mendengar laporan kadernya soal teror dan spanduk yang menyudutkan PKS di daerah. Presiden baru pengganti Luthfi H.I., yang tersandung kasus suap impor sapi, ini pun meminta kadernya tak meladeni provokasi tersebut.

"Saya ingin pesan ke seluruh kader PKS (agar) tindakan (provokasi) itu jangan diladeni. Biarkan itu apa adanya, jangan bereaksi," ujarnya di sela rapat konsolidasi PKS Jawa Barat di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad, 3 Februari 2013. (Lihat: Suap Daging, Muncul Spanduk 'Partai Korupsi Sapi')

Seperti diketahui, penetapan Luthfi Ishaaq sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi berbuntut di daerah. Sedikitnya lima spanduk besar berisi pelesetan kepanjangan PKS menjadi "Partai Korupsi Sapi" ditemukan terpasang di lima titik di Jawa Tengah. Selain spanduk, papan nama satu pengurus cabang PKS di Kota Semarang ditulisi "SAPI". Tulisan alamat kantor partai ini pun dicoret.

Alih-alih membalas dendam, Anis meminta para kadernya mengubah pendekatan komunikasi politik kepada masyarakat dari hubungan industrial menjadi hubungan yang lebih manusiawi. Kader PKS, kata dia, hanya perlu menyampaikan apa adanya kepada masyarakat.

"Bahwa kami bukan makhluk yang suci. Kami bisa salah, khilaf, dan melenceng. Tapi kami juga makhluk pembelajar," katanya. "Saya juga minta masing-masing kader melakukan tobat kepada Allah SWT dengan cara mereka masing-masing." Lihat heboh dan panasnya suap daging sapi impor.

ERICK P. HARDI

Baca juga:
Kumpulkan Informasi, Kuasa Hukum Luthfi Temui PKS

ICW: Peluang Konspirasi di KPK Kecil

Buntut Kasus Luthfi, Anis Matta Roadshow

Luthfi Diduga Berperan Besar Soal Suap Daging

Kementerian Pertanian Dituding Tahu Ada Permainan

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan