Close

Asal Muasal Perpisahan Syiah dari Sunni  

Sabtu, 01 September 2012 | 12:21 WIB

Asal Muasal Perpisahan Syiah dari Sunni  
Masjid Imam Hussein di Karbala, Irak. Tempat sakral bagi kaum Syiah Timur-tengah. djibnet.com

TEMPO.CO, Jakarta - Kawan-kawan dan pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali, salah satu sahabat Nabi.

Namun, Ali dan kawan-kawan akhirnya harus kecewa karena setelah Nabi wafat, setelah selesai penguburan jenazah Nabi, pelaksanaan pemilihan khalifah dilakukan secara musyawarah. Ali dan kawan-kawan melakukan protes, tapi berlawanan dengan harapan mereka, protes itu tak diindahkan dan mereka malah diminta menurut karena keselamatan muslimin bisa terancam.

Protes dan kecaman inilah yang memisahkan kaum minoritas pengikut Ali (minoritas Syiah) dari kaum mayoritas Sunni, dan menjadikan pengikut-pengikutnya dikenal masyarakat sebagai kaum partisan atau Syiah Ali.

Syiah secara harfiah berarti partisan atau pengikut adalah kaum muslimin yang menganggap penggantian Nabi Muhammad SAW merupakan hak istimewa keluarga Nabi dan mereka yang dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahlul Bait.

Cerita ini terungkap dalam buku Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya yang ditulis oleh Allamah M.H. Thabathaba’i, terjemahan dari aslinya Syiah Dar Islam (Syiah dalam Islam). Buku tentang Islam sebagaimana dilihat dan ditafsirkan oleh Syiah dari penulis yang sama.

Allamah M.H. Thabathaba’i mewakili golongan utama dan intelektual dari ulama Syiah yang berpengaruh besar dan orang yang dianggap mewakili penafsiran Syiah yang lebih universal. Ia juga dikenal memiliki pengaruh yang mendalam di kalangan tradisional dan modern di Iran.

GRACE S. GANDHI

Berita Terkait:
Mengenal Syiah di Indonesia
Siapa Syiah, Siapa Sunni
Mengenal 4 Kelompok dalam Syiah

Persamaan dan Perbedaan Sunni-Syiah

Foto Anak dan Lansia Korban Penyerangan di Sampang
Syiah Imam Dua Belas
Rukun Iman dan Islam dalam Kacamata Syiah-Sunni



 






 






Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan