Minggu, 18 November 2018

Hilmar Farid Jadi Dirjen Kebudayaan, Siapa Dia?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Kebudayaan yang baru, Hilmar Farid, saat diambil sumpah pada pelantikan di Jakarta, 31 Desember 2015. Selain Hilmar juga dilantik Staf Ahli Kemendikbud bidang Pembangunan Karakter Arie Budhiman dan Kepala Pusat Pengembangan Film Maman Wijaya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Direktur Jenderal Kebudayaan yang baru, Hilmar Farid, saat diambil sumpah pada pelantikan di Jakarta, 31 Desember 2015. Selain Hilmar juga dilantik Staf Ahli Kemendikbud bidang Pembangunan Karakter Arie Budhiman dan Kepala Pusat Pengembangan Film Maman Wijaya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melantik Direktur Jenderal Kebudayaan yang baru, Hilmar Farid, Kamis, 31 Desember 2015. Hilmar menggantikan Dirjen Kebudayaan sebelumnya, Kacung Marijan, yang telah menjabat selama 4,5 tahun.

    Hilmar Farid biasa dikenal sebagai sejarawan, aktivis, dan pengajar. Pria kelahiran Bonn, Jerman Barat, 8 Maret 1968, ini merupakan anak Agus Setiadi, penerjemah buku cerita anak. Pada 1993, ia menyelesaikan studinya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan judul skripsi “Politik, Bacaan dan Bahasa Pada Masa Pergerakan: Sebuah Studi Awal.

    Dua tahun setelah lulus, pria penyuka musik ini kemudian mengajar di Institut Kesenian Jakarta selama 4 tahun. Pada 1994, bersama beberapa seniman, peneliti, aktivis, dan pekerja budaya di Jakarta, ia mendirikan Jaringan Kerja Budaya dan menerbitkan bacaan cetak berkala Media Kerja Budaya.

    Pada 2002, Hilmar mendirikan dan memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia hingga 2007. Saat ini ia masih bertindak sebagai ketua dewan pembina organisasi nirlaba tersebut sambil menjadi Ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012.

    Tertarik pada kebudayaan dan sejarah, Hilmar kemudian aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan Inter-Asia Cultural Studies Society sebagai editor. Pada Maret 2012, ia bersama rekan-rekannya membentuk Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB), yang bertujuan mensosialisasi pilkada Jakarta 2012 tanpa keterlibatan uang dan mendukung serta mengkampanyekan figur yang layak dipilih.

    Hilmar juga seorang penulis. Pada 2012, bukunya berjudul Kisah Tiga Patung diterbitkan Indonesia Berdikari. Sebentar lagi, bukunya yang lain akan segera terbit. Buku ini berasal dari disertasi doktornya di National University of Singapore bidang kajian budaya pada Mei 2014 berjudul “Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of Decolonization.

    Hilmar merupakan orang pertama yang menduduki kursi direktur jenderal yang berasal dari tataran non-pegawai kementerian. Saat dilantik, ia juga masih menduduki jabatan komisaris di PT Krakatau Steel (Persero).

    EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.