Selasa, 20 November 2018

G30S 1965, Jokowi Bicara Permintaan Maaf ke Keluarga PKI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo saat tiba di lapangan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 2015. Presiden Jokowi menjadi inspektur upacara dalam peringatan kali ini. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo saat tiba di lapangan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 2015. Presiden Jokowi menjadi inspektur upacara dalam peringatan kali ini. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan, sampai saat ini, pemerintah tidak ada niat meminta maaf kepada korban keluarga dan pengikut Partai Komunis Indonesia. Pernyataan Jokowi tersebut sekaligus menepis berita yang beredar di media sosial yang berisi rencana pemerintah meminta maaf kepada keluarga korban PKI terkait dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S 1965.

    "Tidak ada pemikiran mengenai minta maaf. Sampai detik ini, tidak ada ke arah itu," ucap Jokowi setelah memimpin upacara Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Kesaktian Pancasila, Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin, 1 Oktober 2015. "Sampai saat ini, tidak ada pemikiran untuk minta maaf. Jadi, kalau mau tanya, tanyakan ke yang nyebar-nyebarin. Jangan tanya ke saya."

    Pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jokowi bertindak sebagai inspektur upacara. Seusai upacara, ia mengunjungi tiga situs yang ada di Monumen Kesaktian Pancasila, yaitu Lubang Buaya, Rumah Penyiksaan, dan Rumah Komando.

    Baca juga:
    EKSKLUSIF G30S 1965: Begini Pengakuan Penyergap Ketua CC PKI Aidit

    Omar Dani: CIA Terlibat G30S 1965 dan Soeharto yang Dipakai

    Lubang Buaya merupakan lubang yang dijadikan tempat mengubur tujuh jenderal TNI dalam peristiwa G30S, yaitu Letnam Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Pandjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Andreas Tendean.

    Rumah Penyiksaan adalah tempat anggota Pasukan Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden pada masa itu, dan anggota PKI menyiksa tiga perwira TNI. Ketiganya adalah Mayor Jenderal Soeptapto, Brigadir Jenderal TNI Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Andreas Tendean.

    Sedangkan Rumah Komando dulunya merupakan tempat rapat koordinasi rencana pengkhianatan oleh PKI. Rumah yang berukuran sekitar 100 meter persegi ini hanya diisi dipan, meja, dan mesin jahit.

    REZA ADITYA

    Baca juga:
    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3  Keanehan
    Kasus Salim Kancil, Polisi Dituding Bermain


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.