Jumat, 16 November 2018

Harta Calon Pimpinan KPK Ini Disorot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pansel Pimpinan KPK Destry Damayanti (kedua kanan) bersama anggota Pansel Natalia Subagyo (kiri), Yenti Garnasih (kedua kiri), Supra Wimbarti (kanan) memberikan keterangan pers di sela proses seleksi tahap ketiga calon Pimpinan KPK di Jakarta, 27 Juli 2015. TEMPO/IQBAL ICHSAN

    Ketua Pansel Pimpinan KPK Destry Damayanti (kedua kanan) bersama anggota Pansel Natalia Subagyo (kiri), Yenti Garnasih (kedua kiri), Supra Wimbarti (kanan) memberikan keterangan pers di sela proses seleksi tahap ketiga calon Pimpinan KPK di Jakarta, 27 Juli 2015. TEMPO/IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah seorang calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mendapat sorotan Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK dalam sesi wawancara di Ruang Serba Guna Sekretariat Negara, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2015.

    Sebagai pegawai negeri sipil di Bappenas, harta kekayaan Agus Rahardjo dinilai cukup banyak. Itu sebabnya, salah seorang anggota Pansel, Harkristuti Harkrisnowo, menanyakan apakah dalam laporan harta kekayaan pejabat negara (LHKPN) 2012, Agus juga memasukkan harta anak dan istri.

    "Bapak terakhir melaporkan LHKPN pada 2012. Apakah harta anak istri termasuk dilaporkan?" tanya Harkristuti. Pertanyaan itu diajukan karena berdasarkan data Pansel Pimpinan KPK, Agus memiliki satu unit Honda CRV, satu unit Mitsubishi, dan satu unit mobil Avanza.

    Agus mengaku tidak memiliki mobil pribadi hingga dua hari lalu. "Mobil CRV sudah lama sekali saya jual. Saya juga punya tiga truk untuk angkut sayur di Magetan atas nama adik saya, tapi saya laporkan," jawab Agus.

    Agus ditanyai perihal harta tidak bergerak, seperti aset berupa tanah yang cukup banyak. "Tanah saya paling luas itu di Jonggol. Belinya sekitar 2003 atau 2005, sekitar Rp 3.500 per meter. Hari ini harganya sekitar Rp 12 ribu. Itu tanah tidak subur," Agus menjelaskan.

    Agus juga menyebut satu kavling tanah di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Dia mengatakan tanah itu dibeli pada 1997 dengan harga Rp 170 juta.

    Anggota Pansel lain, Betty Alisjahbana, menanyakan kepada Agus dari mana saja asal uangnya. Agus menjawab antara lain diperoleh dari honorarium saat diundang oleh forum global Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). "Sampai delapan kali di Paris," kata Agus.

    Namun jawaban Agus ditanggapi oleh anggota Pansel lain, Enny Nurbaningsih. Menurut Enny, penyelenggara OECD tidak pernah memberikan honor, hanya uang transportasi. "Saya tahu karena saya juga beberapa kali diundang," ujar Enny.

    Dicecar Enny, Agus masih bisa memberikan alasan. Dia mengatakan diundang OECD sekitar delapan kali. Setiap kali diundang dibayar enam ribu Euro. Padahal acara hanya tiga hari dan saya bisa cari tiket murah sekitar US$ 800.

    Agus juga beralasan sering menerima honor dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah. "Di pemerintah kan legal dan umum menerima honor."

    Adapun rekening tabungan yang dimilikinya, kata Agus, hanya total Rp 20 juta, yang disimpan di empat bank atas namanya sendiri.

    Sebelumnya diberitakan Indonesian Corruption Watch (ICW) memberikan sepuluh nama calon pimpinan KPK kepada Pansel yang dinilai bermasalah. Mereka di antaranya memiliki harta kekayaan yang mencurigakan. Ternyata empat nama di antaranya juga masuk dalam catatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) lantaran memiliki transaksi keuangan yang mencurigakan. Data PPATK itu juga sudah ada pada Pansel Pimpinan KPK.

    INDRI MAULIDAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.