Hidayat Nur Wahid: Banyak Bendera Israel di Tolikara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua fraksi Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua fraksi Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -- Tuduhan campur tangan asing dalam kerusuhan yang terjadi di Tolikara 17 Januari lalu kembali terlontar. Politikus Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid  menyampaikan temuan tim Komite Umat untuk Tolikara kepada wartawan di Jakarta, Kamis 23 Juli 2015.

    Menurut Hidayat yang juga anggota Dewan Syuro Komat, ditemukan gambaran bendera Israel di beberapa rumah di Tolikara. Juga di tempat-tempat yang mudah dilihat warga Tolikara. "Kenapa  ada bendera bangsa Israel di Papua? Ini sangat layak dipertanyakan," kata Hidayat yang juga Wakil Ketua MPR ini.

    Hidayat mengatakan, fakta ini ditemukan tim Komat yang sudah terjun ke Tolikara Papua, sejak Selasa lalu. Gambaran bendera Israel itu menjadi aneh, karena selama ini Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. " Bahkan di Jakarta pun kita menemui bendera ini. Ada apa dengan hal tersebut," kata Hidayat.

    Baca juga:
    Saat Rusuh Tolikara, Hanya 42 Aparat yang Berjaga
    Kisruh Tolikara Ada Campur Tangan Asing?

    Menurut Hidayat,  permasalahan di Papua sangat rentan untuk menjadikan kepentingan bagi pihak asing mengeluarkan Papua dari NKRI. Soalnya di Papua jarang terjadi konflik antaragama, sekalipun ada hanya antarsuku. Karena itu, Hidayata mencurigai, konflik sengaja diciptakan agar situasi Papua memburuk.

    Jika memburuk pemerintah Indonesia bakal  dianggap lalai atau tidak mampu menjaga stabilitas keamanan di Papua. Di sinilah peran asing nantinya akan mengambil alih tanah Papua yang  banyak sumber daya alamnya.

    Ada pihak asing yang berusaha mengganggu kerukunan hidup beragama di Papua. Salah satunya dengan menciptakan konflik antara umat Kristen dan Islam di Kabupaten Tolikara. "Permasalahan di Papua memang sangat rentan dijadikan sarana pihak-pihak asing mengeluarkan Papua dari Indonesia," ujarnya.

    Indikasi yang Hidayat percaya adalah ekspos di media sosial yang seolah-olah menimpakan semua kesalahan terhadap aparat setempat. Menurutnya faktor ini mudah sekali dimanfaatkan untuk memicu gerakan yang mengancam keutuhan negara.

    Baca juga:

    Biasa Pakai Pertamax Beralih ke Pertalite, Ini Akibatnya

    KPK Panggil Pengacara Cantik Anak Buah OC Kaligis

    Eksklusif :Pengakuan Anak Buah OC Kaligis Soal Gatot dan Evi

    Pada hari sebelumnya, Kepala BIN Sutiyoso sempat mengutarakan hal senada terkait keterlibatan pihak asing dalam penyerangan Tolikara ini. Meski begitu baik Sutiyoso dan Hidayat menggarisbawahi dugaan itu masih tahap kemungkinan. Pesan utama Komat untuk Kolitara pun mendorong pemerintah memulihkan kembali perdamaian dan toleransi di Papua.

    Komat sendiri ialah komite yang terbentuk atas inisiatif beberapa tokoh lintas agama atas penyerangan umat muslim yang menyelenggarakan salat Id. Dalam laporan tim pencari faktanya, Komat menyatakan ada sekitar 500 orang.

    BINTORO AGUNG S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK, Tudingan Kubu Prabowo - Sandiaga soal Pilpres 2019

    Pada 16 Juni 2019, Tim kuasa hukum Prabowo - Sandiaga menyatakan mempersiapkan dokumen dan alat bukti soal sengketa Pilpres 2019 ke Sidang MK.