Jumat, 16 November 2018

Febri ICW Ragu Terima Penghargaan Charta Politika  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah, menyampaikan pidato saat menerima penghargaan Charta Politika Award untuk kategori aktivis/pengamat politik paling berpengaruh pada 2011 di Jakarta, Selasa (28/2). ANTARA/Ismar Patrizki

    Aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah, menyampaikan pidato saat menerima penghargaan Charta Politika Award untuk kategori aktivis/pengamat politik paling berpengaruh pada 2011 di Jakarta, Selasa (28/2). ANTARA/Ismar Patrizki

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga riset politik Charta Politika Indonesia semalam memberikan penghargaan ke sejumlah politikus dan pengamat. Untuk kategori pengamat, penghargaan diterima oleh Charta Politika Award III kepada peneliti Indonesia Corruption Watch, Febri Diansyah.

    Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan Febri tercatat sebagai pengamat dengan intensitas pernyataan tertinggi dibandingkan pengamat dan aktivis lain. "Pemberitaan tertinggi Febri terdapat pada isu-isu seperti kasus Wisma Atlet, Undang-undang KPK, pemberantasan korupsi, kasus cek pelawat, dan seleksi pimpinan KPK," katanya.

    Yunarto menilai sosok Febri kian dikenal luas karena banyak kasus korupsi meledak tahun lalu. Atas penghargaan itu, Febri mengaku berterima kasih. Namun, dia masih meragukan penghargaan itu apakah benar untuknya atau bukan. "Karena tidak banyak yang tahu kalau di ICW ada dua Febri, saya dan Febri Hendri," kata dia sambil tersenyum.

    Penghargaan Charta Politika diberikan ke sejumlah tokoh yang dianggap berpengaruh. Para tokoh digolongkan dalam enam kategori. Yaitu: pimpinan kementerian/lembaga pemerintah, kategori politikus partai koalisi pemerintah, politikus partai oposan, kepala daerah, pengamat/aktivis, dan lifetime achievement. Siapakah politikus yang menerima penghargaan ini? Klik di sini.

    PRIHANDOKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.