Kamis, 15 November 2018

Al Imdad, Pesantren Pengolah Sampah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesantren Al-Imdad Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/MUH SYAIFULLAH

    Pesantren Al-Imdad Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. TEMPO/MUH SYAIFULLAH

    TEMPO Interaktif, Bantul  - Sebuah pesantren di Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul itu tampak biasa. Terdiri dari gedung sekolah dan asrama. Tampak pula pekarangan yang ditanami sayuran. Namun ada lokasi tempat pemilhan sampah. Sampah organik dan nonorganik. Sampah organik dipilah lalu dibuat kompos, sampah plasti dan sampah nonorganik lainnya dijual ke pengepul sampah.

    Sampah organik seperti dedaunan itu dipisahkan dari sampah plastik. Lalu ditumpuk selama dua hari dengan diberi bibit bakteri kompos. Kemudian sampah yang hampir jadi kompos disaring. Lalu dimasukkan dalam tabung komposter dan didiamkan selama tiga hari. Kompos itu siap digunakan sebagai media tanam dan pupuk.

    “Dalam satu hari, kami menampung sebanyak 1 ton sampah, baik yang organik maupun nonorganik. Kemudian sampah itu kami pisahkan,” kata Habib A Syakur, Pengasuh Pesantren Al-Imdad, Dusun Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 6 Mei 2011.

    Pesantren itu memiliki 40 santri yang menetap di asrama dan 300-an santri kalong atau santri yang tidak menetap di asrama pesantren. Meskipun para santri belajar ilmu umum dan agama, namun penekanan peduli lingkungan dilakukan setiap saat. Setiap hari Minggu, para santri baik yang senior maupun yang masih muda bergiliran mengolah sampah hingga menjadi kompos.
    Sedikitnya setiap hari ada lima hingga 10 santri memilah dan mengolah sampah untuk dijadikan kompos. Tidak hanya itu, semua santri juga mendapatkan honor setiap minggu. Honor yang diterima memang tidak banyak, hanya Rp 100 ribu. Tetapi itu menjadi motivasi tersendiri bagi par santri. Yang menarik, selama menimba ilmu di pesantren, mereka juga tidak dipungut uang sepeser pun.

    Pihak pesantren pun tidak tidak menjual kompos itu. Tetapi kompos itu digunkn untuk usaha pembibitan pohon. Baik pohon keras maupun pohon buah-buahan. Dari pohon jati, kebon (jabon), sengon, hingga buah mangga, rambutan, klengkeng, pepaya dan bibit lainnya.

    Dari hasil penjualan bibit tanaman itulah pesantren bisa membiayai kehidupan para santri tersebut. Media tanam untuk bibit adalah kompos yang dihasilkan oleh para santri itu. Sedangkan sampah plastik juga dikumpulkan untuk langsung dijual ke pengepul sampah dari Jawa Barat.

    “Memang juga ada bantuan ke pesantren dari para donatur dan kadang dari pemerintah,” kata Taufiq Bukhori, Ketua Yayasan Pesantren Al-Imdad.

    Aris Fathurrahman, 21 tahun, salah satu santri yang ditemui saat memilah sampah mengatakan, ia sejak kecil menjadi santri di Al-Imdad. Ia mengaku, kiai di pesantren ini keras dalam mendidik dan peduli lingkungan. Bahkan mengharamkan buang sampah di sembarang tempat, terutama sungai.

    “Peduli lingkungan itu kan juga menjaga kebersihan, padahal kebersihan adalah sebagian dari iman,” kata dia.

    Habib A Syakur, kiai yang lulsan Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta itu memang mengharamkan pembuangan sampah ke sungai. Ia mencontohkan, sepuluh tahun lalu sungai di kampungnya sangat jernih. Kini karena warga ada yang membuang sampah di sungai maka menjadi kotor.

    “Kalau tidak kami jaga dari sekarang, apa jadinya, sungai kan kotor dan rusak, kalau merusak itu hukumnya haram,” kata dia.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pokemon Hidup Dalam Detektif Pikachu

    Hollywood baru saja mengadaptasi karakter favorit dunia dari kartun Pokemon, Pikachu, ke dalam film layar lebar.